Thursday, August 16, 2007

Kamus al-Munjid Produk Orientalis...

Tahukah Anda?
Kamus Arab Terpopuler Sedunia Ternyata Disusun Pendeta!

Jika Anda pernah kuliah di Fakultas Sastra Jurusan Bahasa/ Sastra Arab atau menuntut ilmu di pesantren, tradisional maupun modern, atau bahkan berguru di berbagai perguruan tinggi Islam seperti Universtias Islam Negeri (UIN) Jakarta, Anda pasti mengenal Kamus al-Munjid. Sebuah kamus yang dianggap paling lengkap dan komperehensif, antara lain karena dihiasi gambar-gambar, yang dijadikan kamus utama di berbagai kampus Islam dan pondok pesantren seluruh dunia.

Bahkan di beberapa pondok pesantren seperti Darunnajah Ulujami Jakarta, ada satu mata pelajaran khusus untuk menggunakan Kamus al-Munjid yang disebut Mata Pelajaran Fathul Munjid. Namun tahukah, bahwa Kamus al-Munjid yang dipakai di seluruh ponpes dan kampus Islam dunia itu ternyata disusun dua orang pendeta (rahib) Katolik bernama Fr. Louis Ma’luf al-Yassu’i dan Fr. Bernard Tottel al-Yassu’i yang dicetak, diterbitkan, dan didistribusikan oleh sebuah percetakan Katolik sejak tahun 1908.

Penggunaan Kamus al-Munjid yang sudah lama dan masih dipakai hingga kini bukanlah tanpa penentangan. Sebagian ulama menganggap kamus tersebut bagian dari operasi para orientalis yang memiliki agenda tersembunyi terhadap Dunia Islam. Sekurangnya ada dua kitab yang ditulis ulama Islam yang berisi penentangan terhadap Kamus al-Munjid, yakni:
‘Atsrat al-Munjid fi al-adab wal ulum wa a’lam (Prof. Ibrahimal-Qhatthan, 664 halaman, terbit 1392 H), ini adalah kitab paling utama dalam mengkritisi Kamus al-Munjid.
An-Naz’ah an-Nashraniyah fi Qamus al-Munjid (DR. Ibrahim Awwad, 50 hal,terbit 1411 H)

Kamus al-Munjid sendiri memiliki beberapa kekurangan, jika tidak dikatakan sebagai kesengajaan, yakni:
• Ketika memuat entry “Al-Qur’an”, tidak pernah menyambungkannya dengan istilah “al-Kariem” dan sebagainya. Namun ketika memuat entry kitab suci Kristen dan Yahudi, maka kamus ini menambahkan istilah “al-Muqaddas”;

• Ketika memuat entry “Nabi Muhammad”, tidak pernah mengikut sertakan gelar ‘Shalallahu Allaihi Wassalam”. Demikian pula entry para shahabat tidak pernah ditambahkan dengan “Radiyallahu Anhu”;

• Tidak ada kalimat ‘Basmallah’ di atas setiap bab seperti halnya kitab-kitab umat Islam;

Entryal-Basmallah” yang sesungguhnya milik umat Islam namun dalam keterangannya tertulis “Bismil ab-wal ibn wa Ruhil Quds” yang memiliki arti sebagai “Dengan menyebut Bapak, Anak dan Ruh Kudus”. Setelah itu baru ada entryBismillahirahmannir ahim

• Kamus ini tidak membahas akidah Islam, namun banyak membahas hal-hal yang bersifat penyimpangan akidah;

• Nama- nama tokoh Islam yang utama seperti para shahabat, tabiin, dan para ulama terkemuka tidak dimuat, namun di lain sisi nama-nama tokoh Barat Kristen banyak dimuat;

• Kamus ini tidak pernah merujuk pada sumber-sumber Islam yang asli, tapi sebaliknya merujuk pada sumber-sumber Barat dan ini sangat jelas terlihat dalam entry ‘ibadat’ dan penyebutan nama-nama nabi dan rasul yang menggunakan istilah kristen;

• Banyak kesalahan penulisan nama-nama tokoh dan kaitannya dengan sejarah,

• Mengatakan bahwa daging babi itu sangat lezat,

• Dimasukkannya gambar-gambar dan aneka lukisan yang berasal dari Barat yang sama sekali tidak berdasarkan kebenaran, seperti halnya gambar Nabi Isa dan nabi-nabi lainnya. Bahkan ada sebuah gambar sepasang manusia dewasa telanjang yang tengah menangis, gambar itu dikatakan sebagai gambar Adam dan Hawa,

• Nabi Nuh, Luth dan Sulaiman dikatakan bukan sebagai nabi, tapi Lukman disebut sebagai nabi. Nuh dikatakan sebagai ‘Manusia Taurat pertama’, Luth dikatakan hanya sebagai ‘keponakan Ibrahim’ dan Sulaiman dikatakan sebagai ‘Raja’ bukan nabi;

• Nabi Daud disebut sebagai pembunuh banyak lelaki untuk memperisteri jandanya, padahal beliau telah memiliki isteri sebanyak 100 orang.

Masih teramat banyak catatan-catatan tentang kamus produk orientalis ini yang sampai sekarang, entah kenapa, masih saja dipergunakan di banyak lembaga pendidikan Islam. Sudah saatnya umat Islam menyadari dan berhenti memakai kamus ini. Dan kepada Majelis Ulama Indonesia (MUI), sudah sepatutnya melarang peredaran dan penggunaan kamus ini di seluruhIndonesia.

Sumber : Eramuslim.com

2 comments:

admin said...

kok determinan produk selalu diukur dr pembuatnya. seharusnya diukur dari manfaatnya. emang islam mengembangkan pemikiran di zaman keemasannya gk ngambil dr yunani atau kebudayaan lain???
islam mengandalkan keluasan cakrawala, bukan ego yg sempit beginian.......

Anonymous said...

lha kalo kamusnya salah, sudah pasti produk turunannya salah
coba aja sendiri, SENDAL = sejenis makanan terbuat dari tempe yg digoreng dengan tepung, pasti anda akan merasakan nikmat ketika sarapan pagi dengan SANDAL, jadi kalo bola kena SUNDUL dan masuk gawang, yang kesel bisa teriak "dasar bola SUNDAL

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails